oleh

Kunker ke Ambon, Mendagri Harap Pilkada Tak Jadi Media Penularan COVID-19

AMBON-Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengharapkan Pilkada Serentak yang akan berlangsung 9 Desember 2020 mendatang khususnya di Maluku harus menjadi gelombang mobilisasi masyarakat untuk menjadi agen perlawanan terhadap penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19)  dan bukan media penularan.

Pernyataan Mendagri itu disampaikan saat menghadiri silahturahmi bersama Menko Polhukam, Wakil Ketua DPD RI, Kasum TNI dan Wakapolri dengan Akademisi, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Pemuda dan Organisasi Masyarakat di Provinsi Maluku, dengan mengusung tema ‘Pilkada Serentak 2020, Disiplin masyarakat  Taat Protokol Kesehatan COVID-19, dan Perkembangan Situasi Politik Terkini” di SwissbelHotel, Ambon, Kamis (23/7/2020) malam.

Mendagri dan Menko Polhukam Mahfud MD, Wakil Ketua DPD RI Nono Sampono, Kasum TNI Letjen TNI Joni Supriyanto dan Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono berada di Ambon selama 2 hari dalam rangka kunjungan kerja.

Baca Juga  4 Sekolah di Ambon Terapkan Kurikulum Merdeka Belajar

Disebutkannya, momentum pilkada bukan menjadi media penularan, tetapi justru menjadi gelombang  untuk memobilisasi masyarakat menjadi  agen perlawanan COVID-19.

Silahturahmi yang dihelat dengan mengusung tema ‘Pilkada Serentak 2020, Disiplin masyarakat  Taat Protokol Kesehatan COVID-19, dan Perkembangan Situasi Politik Terkini” itu juga diisi dengan dialog yang dipandu Stafsus Menko Polhukam Imam Marsudi, berlangsung  di SwissbelHotel, Ambon, Kamis (23/7/2020) malam.

Dalam kesempatan ini, Mantan Kapolri ini, menegaskan semua kepala daerah harus serius melaksanakan penanganan pandemi  COVID-19. Bila daerahnya, masuk zona merah harusnya dipertanyakan, apalagi saat Pilkada pemimpinya maju lagi sebagai kontestan pemilu.

“Ini yang perlu menjadi catatan karena pemimpin yang kuat ditemukan saat krisis. Semua kepala daerah harus bergerak serius, daerah merah maka dibully,” tegasnya.

Baca Juga  Walikota Tinjau Pusat Aktifitas Ekonomi Sehari Jelang Lebaran

Pernyataan-pernyataan di atas dikatakan Tito,  ketika salah satu tokoh agama bertanya kenapa Pilkada Serentak tetap dilaksanakan dengan kondisi pandemi.

Dirinya juga meminta agar para tokoh dapat menaikan isu percepatan penanganan COVID-19.

” Tokoh agama, tokoh masyarakat  dan tokoh  pemuda harus  naikkan isu ini agar kontestasi ini menjadi kontestasi penanganan COVID-19,” tukasnya.

Dijelaskan, untuk menentukan  Pilkada Serentak digelar  pada 9 Desember 2020, telah dilakukan dialog dengan lembaga terkait dan  berbagai  kajian termasuk  menyimak perkembangan dunia terkait pandemi  ini.

Sebelumnya, KPU menawarkan tiga  opsi yaitu digelar pada 9 Desember 2020, 17 Maret 2021, dan 29 September 2021.

Dituturkan pula, setelah diamati ada puluhan negara yang menunda pemilihan dan juga puluhan lainnya yang tetap melaksanakan,  maka Indonesia memilih  opsi hanya menunda bulan pelaksanakan Pilkada yang sebelumnya September  menjadi  Desember 2020.

Baca Juga  PLN Dukung Penghijauan di Kabupaten Buru Melalui Penanaman Pohon Produktif

“Ada dua negara yang menunda pelaksanaan pada Mei 2021, yaitu  Inggris dan Paraguay.  Sehingga kita ambil opsi tunda  tapi tunda, bulan” tegas Tito.

Saat pandemi ini, lanjutnya, bila diamati kegiatan Pilkada di negara-negara lain, malah cenderung tingkat partisipan warganya tinggi.  Hal ini tentu, menandakan   Pilkada  sangat penting untuk memilih pimpinan yang akan memgurusi kepentingan hajat hidup orang banyak.

 “Mengadopsi kegiatan Pilkada negara-negara lain , partisipasi malah tertinggi. Ini disebabkan  adanya COVID-19,  mengganggu  hajat hidup semua orang. Untuk itu,  merupakan kepentingan kita untuk memilih  pimpinan yang baik dan tepat karena ada fenomena global dimana ada krisis kesehatan, krisis ekonomi dan  krisis sosial,” terangnya.(polly joris/info-ambon.com)

Komentar

News Feed