oleh

Membuka Kembali Pendakian Binaiya

Yanni dan Onaria secara kebetulan juga menjadi pendaki pertama yang naik ke puncak gunung tertinggi di Maluku tersebut, sejak ditutup akibat pandemi Covid-19 yang merebak awal Februari 2020.

Bagi Yanni, mendaki gunung dengan ketinggian 3.027 mdpl di Pulau Seram, provinsi Maluku itu merupakan pemenuhan janji, setelah ia batal melakukannya saat bersama Tim Ekpedisi Jelajah Wartawan Kebangsaan PWI keliling Indonesia dengan sepeda motor pada awal tahun 2022. Sekalipun masih menyandang nama ekspedisi yang sama, kali ini Yanni hanya ditemani Onaria, tidak lagi bersama tiga rekan laki-laki termasuk almarhum Agus Blues.

Perjalanan menuju puncak Binaiya dimulai Yanni dan Onaria dari Jakarta tanggal 16 April 2022 saat Subuh. Mereka menumpang pesawat terbang sekitar lima jam, dan tiba di bandara internasional Pattimura Ambon siang hari, langsung menuju pelabuhan Tulehu untuk naik kapal cepat ke Masohi, ibu kota Kabupaten Maluku Tengah, sebelum menuju Desa Piliana.

“Sesampai di Masohi sudah sore, langsung mengurus surat keterangan sehat yang menjadi syarat dari Taman Nasional. Itupun susah, tidak ada Puskesmas yang mau memberikan, termasuk rumah sakit umum, untung ada dokter praktek yang bersedia memeriksa dan memberikan surat keterangan sehat,” kata Yanni saat berbicang di teras Hotel Wayame Beach, Senin (25/4). Hotel ini tempat kedua pendaki beristirahat untuk keesokannya terbang ke Jakarta.

Rumah Liliput

Cerita soal pendakian Binaiya, perempuan pendaki gunung dan juga wartawan Wariani Krishnayanni atau Yanni mengatakan, gunung Binaiya yang membentang di Pulau Seram dan masuk dalam wilayah Taman Nasional Manusela seluas 189.000 hektar atau sekitar 20 persen wilayah Pulau Seram itu sangat berbeda dibandingkan gunung-gunung lain yang pernah ia daki sebelumnya.

“Gunung Binaiya sangat berbeda, lengkap jalurnya, dari menanjak hingga beberapa puncak, turun hingga lembahnya, juga melalui beberapa sungai, melewati dua hutan lumut, dan melewati tebing batu terjal,” katanya.

Dalam pengamatannya, Binaiya merupakan gunung bebatuan dengan 2 tipe batu. Dari pos basecamp Piliana hingga pos 4, batu didominasi warna putih seperti pualam, sedangkan dari pos 4 menuju puncak, batu berwarna hitam dan lebih mirip dengan batu karang.

Gunung itu juga memiliki hutan lumut yang asri, burung-burung juga banyak sekali jenisnya, karena suaranya yang berbeda-beda. Dalam perjalanan, Yanni dan Onaria sempat melihat burung warna merah, juga kuning. Mereka pun bertemu dengan dua Elang.

Satu hal yang pasti, mendaki Binaiya cukup menguras tenaga, naik turun sebanyak sembilan puncak.

“Ini sesuai dengan penjelasan Raja (Kades) Piliana Agustinus Ilelapotoa bahwa mengunjungi Binaiya artinya harus siap menjalani batin dibina dan fisik dianiaya,” kata Yanni.

Baca Juga  Negeri Hukurila Akan Gelar Festival Sontong

Fenomena lainnya, ada hutan lumut yang indah, teduh dan bersih bagai rumah Liliput.

Sangat terjaga

Yanni dan Onaria menyebut warga Desa Piliana sangat ramah dan baik menyambut kedatangan mereka. “Kepedulian mereka luar biasa. Rasanya betah tinggal di sana dan masih ingin berlama-lama.”

Bercerita tentang Taman Nasional Manusela, Yanni menyatakannya sebagai luar biasa. Flora dan faunanya sangat banyak jenisnya. Selain itu dari atas puncak-puncak bukit yang dilalui, pendaki bisa melihat keindahan lautan, sunrise dan sunset (matahari terbit dan tenggelam).

Ia mengatakan flora dan fauna di taman nasional tersebut masih sangat terjaga, dan berharap semoga tidak ada masyarakat atau orang luar yang memburu dan membunuh hewan dan unggas yang ada, agar ekosistem tetap terjaga dan tidak ada fauna yang harus turun gunung karena kekurangan makanan.

Saran umum untuk pemerintah daerah adalah tetap menjaga kebersihan gunung dari sampah pendakian, dan porter bisa menjadi agen dalam menjaga kebersihan.

“Sebetulnya saat kami mendaki, gunung ini cukup bersih, entah karena pandemi Covid-19 pendakian ditutup sehingga lama tidak ada pengunjung, maka terlihat sangat bersih. Semoga setelah lebaran yang infonya banyak kelompok akan mendaki, tidak meninggalkan sampah nantinya,” kata Yanni sambil menikmati ice cream di tangannya.

Ia berharap pula ada larangan bagi pendaki menggunakan musik dari gadget atau apapun di hutan, tidak berteriak ataupun tertawa dengan keras agar tidak menganggu para penghuni yang ada di sana. Peningkatan edukasi bagi para porter tentang sejarah gunung, nama-nama tempat yang dilalui, dan mengenali tumbuhan sebagai “survive” (bahan makanan) di hutan juga harus dilakukan.

Tempat belajar

Apa makna pendakian Gunung Binaiya bagi Yanni? “Semua gunung yang saya daki selalu punya makna tersendiri, karena saya menganggap bahwa gunung adalah tempat bersekolah, tempat belajar, selalu ada pesan yang bisa didapatkan.”

Di gunung Binaiya dengan jalur yang panjang dan menyiksa, Yanni teringat banyak candaan teman dengan pertanyaan, “Untuk apa naik gunung?”

“Saya lalu berpikir, iya, untuk apa orang naik gunung? Secara pribadi, saat saya jalan sendirian sambil menundukkan kepala melewati bebatuan tajam yang siap melumat tubuh kita meski hanya tersandung saja, tiba-tiba di pikiran melintas bahwa manusia mendaki gunung sebenarnya hanya untuk mendapatkan kesadaran, untuk menjadi lebih baik. Karena begitu rentannya kita, begitu lemah, begitu kecil, begitu tergantung satu sama lain, kenapa bisa sombong dan angkuh?”

“Kenyataan lain adalah kita manusia ini lebih kepada perusak, pembunuh, tukang menyakiti dan pembuat gaduh, atau penganggu. Dengan langkah-langkah kecil kita, meski sangat perlahan, membuat penghuni hutan terkejut dan takut. Selain itu tanpa kita sadari dengan langkah-langkah kita atau trekking pole yang digunakan, kita telah banyak membunuh mungkin semut dan binatang kecil lainnya yang ada di tanah, dan bila ada batang ranting menghalangi, tidak segan-segan kita akan mematahkannya, atau membabatnya dengan parang.”

Baca Juga  Sandiaga Uno Dipastikan Hadiri Puncak Acara Festival Pesona Meti Kei 2021

Panggilan jiwa

Sejak kapan Yanni punya minat untuk mendaki gunung? “Minat naik gunung secara khusus sebetulnya tidak muncul dari diri begitu saja, berawal dari saat di SMA, ikut kegiatan extra kulikuler. Masuk ke Pecinta Alam di sekolah, mungkin saat ini disebut Sispala.”

Lulus dari SMA PGRI 21 Surabaya tahun 1989, ia lalu berhenti total dari kegiatan mendaki gunung, kendati ada satu gunung di Jawa Timur yang ingin sekali dikunjunginya, Gunung Arjuna. Ini karena namanya yang indah terdengar di telinga. Saat itu tidak ada kesempatan bagi dirinya. Apalagi sebagai anak perempuan pingitan.

“Ayah saya kolot dan tidak memperbolehkan saya keluar malam, apalagi pergi berhari-hari,” cetusnya.

Tetapi seiring waktu yang berjalan, kenyataan berbicara lain. Gunung Arjuna seakan punya cara sendiri untuk memanggil Yanni bertandang.

“Pada tahun 1998, ada anak teman saya yang akan mendaki ke gunung yang saya impikan, yaitu Gunung Arjuna, tanpa banyak berpikir, ikutlah saya. Tanpa pemanasan dan persiapan, alhasil otot atau syaraf lutut kanan saya sempat cidera di bagian dalam. Tidak ada luka, tapi sakitnya luar biasa. Turun dari puncak Arjuna, saya butuh waktu sekitar 11 jam, normalnya hanya empat hingga lima jam.”

Setelah peristiwa itu, Yanni memutuskan tidak akan naik gunung lagi, karena impian ke gunung Arjuna sudah terwujud.

Tetapi sekali lagi, perjalanan hidup memang tidak bisa diduga, keputusan tinggal keputusan. Pada Mei 2013, founder PPLH Suryo Wardhoyo (almarhum) yang adalah sahabat Yanni berwasiat ingin disemayamkan di Gunung Penanggungan, tepatnya di Candi Kedalisodo. Gunung yang memiliki ketinggian 1.653 mdpl itu menyimpan ratusan candi dan situs purbakala.

Apa lacur, Yanni ditunjuk sebagai koordinator lapangan untuk membawa abu jenasah sahabatnya itu. “Di tahun dan detik itulah, saya tidak bisa menolak untuk mendaki gunung lagi. Sakit lutut akibat pendakian Arjuna masih ada tetapi tidak menjadi penghalang. Selama tiga tahun saya sering naik turun ke Candi Kendalisodo untuk memperingati 40 hari, 100 hari, setahun hingga tiga tahunnya, dan mengantar teman-teman almarhum Suryo Wardhoyo yang ingin ziarah mengirimkan doa dan bunga.”

Selama tiga tahun itu pula Yanni belajar bagaimana mengatasi sakit di lututnya. Ia mencoba mengatur ritme langkah menjadi lebih kecil. Cara tersebut ternyata berhasil, rasa sakit itu berangsur hilang.

Pada 2016, ada teman Yanni dari LSM yang membutuhkan bantuan untuk menambah menu masakan di desa adat Liang Ndara, Tado dan Waerebo di NTT. Menuju Waerebo ternyata juga harus mendaki, dan sakit di lututnya benar-benar sudah hilang. Sejak itu, ia pun berpikir, beberapa kejadian membuat dirinya seperti dipaksa untuk mendaki gunung kembali, dan akhirnya memutuskan untuk tidak menolak kesempatan untuk mendaki gunung.

Baca Juga  Yanni Krishnayanni Ingin Tepati Janji Kunjungi Binaiya

Gunung ke-31

Pada 2017, lagi-lagi karena terkesan pada nama, Yanni pun menyambangi Gunung Rinjani atau Anjani. Ini gunung pertama di luar Pulau Jawa yang dikunjunginya.

Tahun berikutnya, Yanni betul-betul intens mendaki gunung. Ini berawal dari sikap menantang diri sendiri untuk solo hiking ke Gunung Lawu lewat Candi Cetho Karang Anyar, Solo.

“Karena ada rasa takut dalam diri bila berada di hutan pegunungan sendirian, takut ini membuat saya penasaran, dan membuat saya menyadari bahwa iman saya kepada Tuhan ternyata belum 1.000 prosen, artinya saya belum benar-benar percaya kepada Sang Pencipta sebagai pelindung saya”

Setelah solo hiking, Yanni bertemu dengan pendaki perempuan seumuran, usia di atas 45 tahun.

“Di tahun 2018 inilah saya seperti kuda yang baru keluar dari sekap kandang. Setelah gunung Lawu, saya mendaki Argopuro, Semeru, Raung sebagai 3 gunung “TER” di Jawa, yaitu : Terpanjang, Tertinggi dan Terekstrim.

Zaman SMA, Yanni hanya mendaki dua gunung dengan tambahan satu gunung di tahun 1998. Setelah 2018 ada 30 gunung yang sudah dikunjunginya, dan Binaiya menjadi gunung ke 31.

Sebagai seorang pendaki gunung, ia tidak mempedulikan berapa banyak gunung atau seberapa banyak gunung tinggi yang sudah bisa dilalui, karena pencapaian itu bukan untuk kesombongan, eksistensi, menunjukkan diri, atau apapun istilahnya.

“Karena bagi saya, gunung adalah tempat belajar, bukan tempat bermain. Kesombongan, keangkuhan tidak akan berlaku disana, dan jangan pernah meremehkan ketinggian gunung yang lebih rendah dari yang pernah dikunjungi. Contohnya Bukit Raya dan Binaiya ini, dari daftar seven summit pada urutan bontot, ke 7 dan ke 6, tapi waktu yang dibutuhkan, stamina fisik dan kekuatan mental tidak sesingkat dan sesimpel saudaranya yang jauh lebih tinggi, misalnya Kerinci, Rinjani Semeru maupun Latimojong.”

Yanni juga memegang prinsip tidak mau meremehkan sesuatu yang nampak rendah, dan akan menghargai setiap hal, selalu hati-hati dan waspada. “Dari situ kita akan menemukan pesan di balik sebuah kejadian.”

Prinsip lainnya, kita harus menyadari bahwa tanpa manusia, alam semesta beserta isinya akan baik-baik saja.

“Karena itu, jangan bikin kotor di mana pun berada, bawa selalu sampahmu, jaga bicaramu, jaga tingkah lakumu karena kita manusia hanya sebagai tamu di bumi ini.” Ini kalimat paling akhir dari obrolan bersama Yanni, yang tampaknya ditujukan kepada para pendaki gunung.

Wariani Krishnayanni yang akrab disapa Yanni lahir di Mojokerto, 21 Oktober 1970. Ia tinggal di Perumahan Untag Blok B-24, Surabaya. Di Jakarta, ia berdomisili di Jalan Mangga Besar IVT No.9.

Penyandang S1 Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Katolik Darma Cendika Surabaya, Yanni yang saat ini tercatat sebagai wartawan Askara.co punya hobi menikmati keindahan alam raya (touring, mendaki,travelling), olah raga, dan menulis. (JNS)

News Feed